Faktaplus.Id – Pemerintah Kota Ambon menegaskan komitmennya dalam mendukung percepatan proses perdamaian antar warga yang sempat terlibat konflik di kawasan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kota Ambon. Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Ambon sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas keamanan, ketertiban umum, serta keharmonisan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Wali Kota Ambon menilai bahwa konflik yang terjadi, khususnya di lingkungan pendidikan, tidak hanya berdampak pada keamanan wilayah, tetapi juga mengganggu proses belajar-mengajar serta merusak nilai-nilai persaudaraan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Ambon. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penyelesaian konflik secara cepat, adil, dan bermartabat melalui dialog, musyawarah, serta penegakan hukum yang humanis.
Menurutnya, Kota Ambon memiliki sejarah panjang dalam membangun rekonsiliasi dan perdamaian pascakonflik. Nilai “orang basudara” harus terus dijaga dan dijadikan pegangan bersama dalam menyikapi setiap persoalan sosial. Ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memperkeruh suasana dan memperluas konflik.
“Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling melukai. Setiap persoalan pasti ada jalan keluar jika diselesaikan dengan kepala dingin, saling menghormati, dan mengutamakan kepentingan bersama,” tegasnya.
Upaya pemerintah kota ini mendapat dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pemuda. Ismail Marasabessy, Pemuda Negeri Kailolo ini menyampaikan apresiasi atas langkah cepat dan sikap tegas Wali Kota Ambon dalam merespons konflik tersebut. Menurutnya, kehadiran negara melalui pemerintah daerah sangat penting untuk memastikan proses perdamaian berjalan dengan adil dan berkelanjutan.
Ismail menilai bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam meredam konflik dan membangun suasana damai. Ia mengajak generasi muda Maluku untuk tidak terjebak dalam emosi sesaat, apalagi terpancing provokasi yang dapat merusak masa depan bersama.
“Kami sebagai pemuda mendukung penuh percepatan perdamaian. Konflik hanya menyisakan luka, trauma, dan kerugian bagi semua pihak. Perdamaian adalah jalan terbaik agar masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman,” ujar Ismail. Senin, (29/12/25)
Ia juga menegaskan bahwa lingkungan pendidikan seperti STAIN seharusnya menjadi ruang tumbuhnya nilai-nilai keilmuan, toleransi, dan kedewasaan berpikir, bukan menjadi arena konflik. Oleh karena itu, semua pihak diminta untuk menjaga kampus dan sekitarnya sebagai zona damai.
Sementara itu, aparat keamanan bersama pemerintah daerah terus melakukan langkah-langkah preventif dan persuasif, termasuk pengamanan wilayah serta fasilitasi komunikasi antar pihak yang bertikai. Tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat juga dilibatkan untuk memastikan proses rekonsiliasi berjalan secara inklusif dan berlandaskan kearifan lokal.
Diharapkan, dengan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan pemuda, konflik yang terjadi dapat segera diselesaikan secara menyeluruh. Perdamaian yang tercipta tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi pondasi kuat bagi terwujudnya Kota Ambon yang aman, harmonis, dan berkeadilan sosial.



