Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
InternasionalOpiniPolitik

Saat Ketegangan AS–Iran Memanas, Pernyataan Prabowo tentang “Tangan Perdamaian” Relevan Secara Geopolitik

×

Saat Ketegangan AS–Iran Memanas, Pernyataan Prabowo tentang “Tangan Perdamaian” Relevan Secara Geopolitik

Sebarkan artikel ini
FAKTAPLUS.ID, Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah pernyataan Presiden itu benar. Secara geopolitik dan historis, jawabannya iya. Pertanyaannya adalah sejauh mana Indonesia berani mengambil peran tersebut secara aktif dan konsisten di panggung dunia.

Oleh: Fadel Rumakat.

JAKARTA—FAKTAPLUS.ID, Ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengeras dan berpotensi meluas menjadi krisis global, pernyataan Presiden Prabowo Subianto di sejumlah media nasional menjadi relevan untuk ditimbang secara serius. Ia pernah menyatakan bahwa jika Indonesia dibutuhkan untuk menjadi tangan perdamaian dunia, maka Indonesia siap. Pernyataan itu bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan refleksi dari posisi geopolitik Indonesia yang unik dalam percaturan global.

Silakan gulirkan ke bawah

Konflik AS-Iran bukan sekadar rivalitas dua negara. Ia adalah simpul dari tarik-menarik kekuatan besar yang berdampak pada stabilitas energi, keamanan Timur Tengah, hingga ekonomi global. Setiap eskalasi di kawasan Teluk Persia atau Selat Hormuz berimbas pada harga minyak dunia dan ketidakpastian pasar internasional. Negara berkembang seperti Indonesia tentu tidak imun terhadap dampak tersebut. Dalam konteks inilah, tawaran Indonesia untuk berperan sebagai penengah menjadi signifikan.

Secara historis, Indonesia bukan pemain yang lahir dari tradisi blok kekuatan. Sejak awal kemerdekaan, politik luar negeri Indonesia dirumuskan dalam prinsip bebas aktif: bebas menentukan sikap tanpa terikat poros mana pun, dan aktif memperjuangkan perdamaian dunia. Prinsip itu dipertegas dalam momentum Konferensi Asia Afrika yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara baru pascakolonial. Dari forum itu pula lahir semangat yang kemudian mengkristal dalam Gerakan Non-Blok.

Warisan diplomasi era Soekarno menunjukkan bahwa Indonesia sejak awal diposisikan sebagai jembatan, bukan perpanjangan tangan kekuatan besar. Indonesia tidak dibangun untuk menjadi satelit geopolitik, melainkan sebagai kekuatan moral yang menjembatani perbedaan. Dalam konteks konflik AS-Iran, posisi non-blok ini menjadi modal strategis. Indonesia tidak memiliki sejarah permusuhan dengan Washington maupun Teheran. Hubungan diplomatik dengan keduanya relatif stabil dan berbasis kepentingan bersama.

Di sinilah letak kebenaran geopolitik dari pernyataan Prabowo. Indonesia memang berada dalam posisi yang memungkinkan untuk menjadi mediator bukan karena kekuatan militer atau ekonomi yang dominan, tetapi karena kredibilitas historis dan konsistensi politik luar negeri. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi antara blok Barat dan poros kekuatan alternatif, negara yang tidak terjebak dalam rivalitas justru memiliki ruang manuver yang lebih luas.

Namun, menjadi “tangan perdamaian” tentu tidak cukup dengan pernyataan normatif. Ia memerlukan strategi konkret. Indonesia dapat mendorong jalur diplomasi multilateral melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, memperkuat komunikasi bilateral dengan kedua pihak, atau memanfaatkan forum-forum kawasan untuk menyerukan de-eskalasi. Pendekatan soft power melalui diplomasi budaya, kemanusiaan, dan solidaritas negara berkembang dapat menjadi instrumen efektif.

Selain itu, ada dimensi kepentingan nasional yang tidak boleh diabaikan. Stabilitas global berkaitan langsung dengan stabilitas domestik Indonesia, terutama dalam hal energi dan ekonomi. Ketika konflik AS-Iran memanas, harga minyak melonjak dan rantai pasok terganggu. Dengan kata lain, kontribusi Indonesia dalam mendorong perdamaian bukan semata idealisme moral, melainkan juga bagian dari menjaga kepentingan nasional.

Indonesia memang bukan kekuatan hegemonik. Namun dalam geopolitik modern, kekuatan menengah (middle power) sering kali memainkan peran penting sebagai penyeimbang. Negara-negara seperti Indonesia memiliki legitimasi moral karena tidak membawa agenda dominasi. Dalam situasi konflik yang sarat kecurigaan, kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Indonesia memiliki modal itu.

Pernyataan Prabowo bahwa Indonesia siap jika dibutuhkan menjadi tangan perdamaian dunia karenanya tidak berlebihan. Ia justru sejalan dengan karakter dasar politik luar negeri Indonesia. Tantangannya adalah konsistensi dan keberanian untuk menerjemahkan komitmen tersebut dalam langkah nyata. Diplomasi perdamaian memang tidak selalu menghasilkan gebrakan spektakuler, tetapi kerja-kerja sunyi yang membangun komunikasi sering kali lebih menentukan dalam jangka panjang.

Dalam kacamata geopolitik, Indonesia adalah negara non-blok yang relatif bersih dari konflik eksternal dan memiliki historis panjang dalam mendorong solidaritas global. Dunia yang sedang terfragmentasi membutuhkan jembatan, bukan sekadar pemain yang memperkeras polarisasi. Jika momentum itu datang, Indonesia memang layak dan secara historis siap untuk mengulurkan tangan perdamaian.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah pernyataan Presiden itu benar. Secara geopolitik dan historis, jawabannya iya. Pertanyaannya adalah sejauh mana Indonesia berani mengambil peran tersebut secara aktif dan konsisten di panggung dunia.

PENULIS adalah Fungsionaris Bakornas LAPMI PB HmI. Aktif diberbagai issue-issue Sosial dan Penggiat Korupsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *