Example floating
Example floating
Opini

Menguji Cinta, Merawat Keikhlasan: Refleksi Pengasuhan dari Keluarga Ibrahim AS

×

Menguji Cinta, Merawat Keikhlasan: Refleksi Pengasuhan dari Keluarga Ibrahim AS

Sebarkan artikel ini

Penulis: Suherman, M.A (Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 21 Jakarta)

Fakta Plus – Memasuki bulan Dzulhijjah, ingatan kolektif umat Islam selalu dibawa kembali pada lembaran sejarah kelam namun indah di tanah Makkah ribuan tahun silam. Momentum ini bukan sekadar rutinitas ibadah haji atau penyembelihan hewan kurban, melainkan sebuah madrasah agung tentang hakikat cinta dan keikhlasan. Melalui momen Hari Tarwiyah dan Idul Adha, kita kembali dihadapkan pada potret keluarga Nabi Ibrahim AS—sebuah role model pengasuhan dan ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta.

Silakan gulirkan ke bawah

Dalam sebuah kajian imtaq di lapangan SMAN 21 Jakarta baru-baru ini, Ustadz Suherman, MA, mengupas tuntas tema yang sangat menyentuh hati: “Ketika Keikhlasan Menjadi Bukti Cinta”. Kajian ini membedah bagaimana Islam memandang cinta, dan bagaimana Nabi Ibrahim AS berhasil mengaplikasikan cinta tertinggi tersebut dalam kehidupan berkeluarga.

Memahami Level Cinta: Dari Mahabbah Menuju Mawaddah

Seringkali kita mencampuradukkan makna cinta. Dr. Nasih Ulwan dalam salah satu pandangannya menyebutkan bahwa mahabbah (kecintaan) sebenarnya berada pada level paling rendah. Mengapa? Karena mahabbah sering kali lahir karena sebuah sebab. “Saya mencintaimu karena kamu tampan, karena kamu kaya, atau karena kamu baik.” Ketika sebab itu hilang, maka hilangnya pula rasa cinta.

Itulah alasan mengapa dalam ayat tentang pernikahan (QS. Ar-Rum: 21), Allah SWT tidak menggunakan kata mahabbah, melainkan mawaddah dan rahmah. Level ini jauh lebih tinggi karena tidak lagi berbicara tentang “karena”, melainkan “walaupun”. Cinta yang sudah mencapai tahap mawaddah dan rahmah akan berkata, “Aku tetap bersamamu dan mencintaimu, walaupun engkau memiliki kekurangan.”

Puncak dari pembuktian cinta tertinggi ini adalah kerelaan untuk mengikhlaskan apa yang paling kita cintai demi Zat yang paling berhak dicintai, yaitu Allah SWT.

Potret Pengasuhan Keluarga Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS dianugerahi gelar Khalilullah (Kekasih Allah) bukan tanpa alasan. Keistimewaan beliau tidak hanya terpancar secara personal, tetapi dilekatkan oleh Allah pada keutuhan keluarganya. Menariknya, keluarga Nabi Ibrahim merupakan tipikal keluarga nomaden (berpindah-pindah tempat), yang berkolaborasi dengan para pendamping hidupnya—Siti Sarah dan Siti Hajar—dalam mendidik keturunan yang hampir semuanya laki-laki.

Ada pelajaran parenting yang sangat berharga ketika Nabi Ibrahim menerima perintah lewat mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS. Ibrahim tidak menjadi orang tua yang otoriter. Meski itu adalah perintah wahyu, beliau tetap mengajak Ismail yang mulai beranjak dewasa untuk berdialog:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

Artinya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. Ash-Saffat: 102).

Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk membuka ruang diskusi dengan anak, melatih sel saraf dan kedewasaan berpikir mereka, bukan langsung memaksakan kehendak dengan dalih “orang tua selalu benar”.

Keikhlasan Bukan Produk Instan

Jawaban Nabi Ismail AS sungguh menggetarkan: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, dijelaskan bahwa secara lisan Ismail begitu tegas menerima, namun di dalam hatinya manusiawinya, tentu ada rasa cemas dan gelisah. Di sinilah letak ujian keikhlasan. Keikhlasan itu bukan sesuatu yang hadir secara instan atau sekali jadi, melainkan sebuah proses yang harus dilatih, dipupuk, dan dibiasakan secara terus-menerus.

Ketika sebuah kebaikan sudah dibiasakan dan konsisten dilakukan, ia akan menjelma menjadi karakter yang kokoh. Pada titik itulah, bisikan-bisikan setan yang mencoba menggoyahkan keteguhan hati akan menjadi mental dan tidak mempan.

Menjemput Kemuliaan di Bulan Dzulhijjah

Hari-hari di awal bulan Dzulhijjah ini dinamakan oleh Rasulullah SAW sebagai A’zomul Ayyam (hari-hari yang paling agung). Allah menyediakan dua hadiah besar bagi mereka yang mau mengisinya dengan amal saleh: A’zomud Darajat (derajat yang ditinggikan) dan A’zomul Ajron (pahala yang dilipatgandakan berkali-kali lipat).

Melalui momentum Dzulhijjah ini, kita diajak untuk merefleksikan kembali isi hati kita. Sudahkah kita melatih keikhlasan dalam berkurban—baik mengorbankan sebagian harta, waktu, maupun ego pribadi? Meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah tentang bagaimana kita berani melepaskan apa yang kita “genggam” di dunia, demi meraih rida Allah yang Mahaluas. Karena pada akhirnya, keikhlasan sejati adalah satu-satunya bukti cinta kita kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *