
AMBON — FAKTAPLUS.ID, Di tengah ketidakpastian ekonomi global, dinamika politik internasional, dan berbagai tantangan pembangunan daerah, gagasan penyelenggaraan Kongres Masyarakat Maluku Sedunia dinilai menjadi langkah strategis untuk menyatukan kekuatan masyarakat Maluku yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia maupun mancanegara.
Fungsionaris Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Fadel Rumakat, menilai sudah saatnya Pemerintah Provinsi Maluku mengambil inisiatif besar untuk menghimpun seluruh potensi masyarakat Maluku dalam sebuah forum global yang mampu melahirkan gagasan dan arah pembangunan jangka panjang bagi daerah.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Maluku saat ini tidak lagi dapat diselesaikan melalui pendekatan-pendekatan parsial. Dibutuhkan konsolidasi besar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Maluku, baik yang berada di tanah kelahiran maupun yang telah bermukim di berbagai negara.
Ketidakpastian situasi ekonomi dan politik dunia, juga instabilitas sosial, ekonomi, dan politik menghendaki elit politik Maluku di mana pun berada harus mulai memikirkan masa depan masyarakat Maluku hari ini dan generasi yang akan datang. Jika pemimpin Maluku saat ini memiliki keberanian dan visi besar, maka Kongres Masyarakat Maluku Sedunia sudah saatnya diprogramkan,” kata Fadel, Jumat (12/6).
Ia mengaku mendukung penuh gagasan tersebut, namun meragukan keberanian politik para pemimpin daerah untuk merealisasikannya.
Kami sangat mendukung, tetapi semuanya terpulang kepada pengambil kebijakan. Kami masih ragu karena Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath berani atau tidak mewujudkan Kongres Masyarakat Maluku Sedunia. Jangan sampai yang dipikirkan hanya kepentingan pribadi, kelompok, dan partai politik masing-masing untuk bertahan hidup secara politik. Maluku membutuhkan pemimpin yang memiliki visi besar untuk masa depan bangsanya,” ujarnya.
Fadel menilai, salah satu persoalan mendasar yang dihadapi Maluku adalah belum adanya upaya serius untuk menyatukan potensi intelektual, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Maluku yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, selama ini kontribusi historis Maluku terhadap Indonesia sering kali tidak memperoleh perhatian yang proporsional. Padahal, Maluku memiliki posisi penting dalam sejarah Nusantara maupun sejarah dunia.
Indonesia tidak pernah benar-benar menghitung kontribusi Maluku terhadap republik ini. Maluku sering dipandang hanya sebagai pelengkap penderita dalam narasi pembangunan nasional. Padahal, sejarah mencatat bahwa Maluku pernah menjadi pusat perhatian dunia karena kekayaan rempah-rempahnya,” kata dia.
Fadel juga membandingkan kemampuan konsolidasi sosial yang dilakukan oleh masyarakat Papua dengan kondisi yang terjadi di Maluku saat ini.
Dalam konteks sosial kemasyarakatan, Papua lebih cerdas daripada Maluku. Mereka mampu membangun kesadaran kolektif dan memperjuangkan kepentingan masyarakatnya secara terorganisir. Tantangan bagi pemimpin Maluku hari ini adalah membangkitkan kecerdasan sosial itu. Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah melalui Kongres Masyarakat Maluku Sedunia,” ujarnya.
Ia meyakini gagasan tersebut akan mendapat sambutan luas dari masyarakat Maluku di berbagai negara. Menurut perkiraannya, sedikitnya puluhan ribu orang Maluku saat ini hidup dan menetap di luar daerah maupun luar negeri.
Mereka adalah bagian dari bangsa Maluku yang selama ini belum pernah benar-benar dihimpun dalam satu forum besar. Perjuangan hidup mereka di tanah rantau tentu tidak mudah. Bisa jadi banyak di antara mereka yang masih merindukan tanah leluhur dan ingin berkontribusi bagi kemajuan Maluku,” katanya.
Fadel menilai nilai-nilai hidup orang basudara, pela, dan gandong yang selama ini menjadi identitas sosial masyarakat Maluku harus diwujudkan dalam langkah konkret, bukan sekadar slogan budaya.
Jika yang terus kita gaungkan adalah hidup orang basudara, pela, dan gandong, maka tidak elegan apabila kita membiarkan begitu banyak masyarakat Maluku tercerai-berai tanpa pernah didata, dihimpun, dan diajak membangun daerah bersama-sama. Kongres Masyarakat Maluku Sedunia adalah momentum yang tepat untuk menyatukan kembali seluruh potensi itu,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengusulkan agar forum tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menghasilkan basis data diaspora Maluku, peta potensi sumber daya manusia, investasi, hingga rumusan pembangunan jangka panjang yang dapat menjadi acuan pemerintah daerah.
Bahkan, menurut Fadel, apabila memungkinkan, pemerintah dapat mulai memikirkan program repatriasi atau skema khusus yang membuka ruang bagi diaspora Maluku untuk kembali berkontribusi secara langsung di tanah kelahiran mereka.
Kongres ini harus menjadi momentum pendataan diaspora Maluku di seluruh dunia, menyusun visi besar pembangunan Maluku, dan bila memungkinkan membuka jalan bagi program repatriasi masyarakat Maluku yang ingin kembali membangun tanah leluhurnya,” katanya.
Fadel menegaskan bahwa keberhasilan agenda tersebut sangat bergantung pada kemauan politik pemerintah daerah. Ia menilai penyelenggaraan Kongres Masyarakat Maluku Sedunia sesungguhnya bukan hal yang sulit apabila ada komitmen dan keberanian dari para pemimpin daerah.
Sampai hari ini kita bahkan tidak pernah memiliki data yang pasti tentang berapa jumlah orang Maluku yang tersebar di seluruh dunia. Untuk mengetahui jumlahnya saja sulit, apalagi menghimpun mereka menjadi satu kekuatan besar. Di titik ini, Papua maupun Maluku Utara terlihat lebih berani melakukan konsolidasi dibandingkan Maluku,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Maluku memiliki jejak sejarah yang sangat besar dalam peradaban dunia. Sejak berabad-abad lalu, bangsa-bangsa besar datang ke Maluku karena nilai strategis dan kekayaan yang dimiliki wilayah tersebut.
Lama sekali Gubernur Jenderal VOC berkantor di Maluku. Portugis, Spanyol, Inggris, bangsa Arab, Tiongkok, bahkan dalam catatan sejarah dunia, berbagai peradaban besar memiliki kepentingan terhadap Maluku. Namun karena kita terlambat berhitung dan terlambat mengonsolidasikan kekuatan sendiri, kini Maluku justru lebih sering menjadi penonton di negeri yang dulu pernah menjadikannya pusat perhatian dunia,” kata Fadel.
Karena itu, ia berharap Pemerintah Provinsi Maluku dapat menjadikan Kongres Masyarakat Maluku Sedunia sebagai agenda strategis daerah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, akademisi, pemuda, pelaku usaha, serta diaspora Maluku dari berbagai negara.
Maluku membutuhkan lompatan besar. Dan setiap lompatan besar selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir besar. Kongres Masyarakat Maluku Sedunia dapat menjadi titik awal kebangkitan baru bagi bangsa Maluku di abad ini,” pungkasnya.





