
Fakfaplus.id—Tulisan ini saya tulis dengan perasaan yang agak campur aduk. Terus terang, saya kerap bertanya-tanya tentang keadaan bangsa hari ini. Banyak hal terasa tidak beres, tetapi pada saat yang sama sulit menunjuk satu penyebab yang benar-benar pasti. Di ruang-ruang kaderisasi, nilai-nilai dibicarakan dengan sangat baik, bahkan nyaris sempurna. Namun ketika menengok kenyataan di sekitar, saya justru sering merasakan ada jarak antara apa yang diajarkan dan apa yang terjadi.
Situasi yang kita hadapi hari ini sebenarnya bukan hal baru. Politik semakin terasa transaksional, konflik sosial muncul berulang kali, dan kepercayaan publik terhadap negara kian menipis. Semua ini seolah menjadi pemandangan yang biasa. Yang membuat saya gelisah, pembicaraan tentang nilai sering kali berhenti sebagai wacana. Ia dikutip, dipuji, bahkan dijadikan legitimasi moral, tetapi tidak sungguh-sungguh hadir dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Tulisan ini tidak bermaksud mengulas Nilai Dasar Perjuangan (NDP) secara teoritis atau menyeluruh. Saya juga tidak sedang menawarkan jawaban besar atas persoalan bangsa. Saya hanya ingin melihat NDP sebagai pegangan sederhana bagi kader. Bagi saya, NDP seharusnya membantu kita menentukan sikap, terutama ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan nyata yang tidak selalu hitam-putih.
Menurut pandangan saya pribadi, persoalannya bukan karena kader tidak mengetahui NDP. Banyak yang tahu, bahkan hafal di luar kepala. Namun dalam keseharian, nilai-nilai itu sering tidak muncul. Saya sendiri pun belum bisa mengatakan telah menjalankannya dengan baik. Ada banyak situasi di mana saya ragu, bingung, atau justru memilih diam. Dari pengalaman itu, saya merasa persoalan ini tidak sesederhana soal paham atau tidak paham.
Di titik inilah seharusnya NDP bekerja. Bukan sebagai alat untuk menghakimi, apalagi merasa paling benar, tetapi sebagai pengingat arah. Ia mestinya membantu kita berhenti sejenak dan bertanya: sikap apa yang seharusnya diambil? Keputusan apa yang paling mendekati nilai yang kita yakini? Mungkin terdengar sederhana, tetapi justru hal-hal seperti inilah yang sering luput dalam praktik.
Karena itu, saya berpikir kader HMI perlu membuka ruang diskusi yang lebih membumi, dari komisariat hingga cabang. Diskusi yang tidak selalu rapi, tidak selalu selesai, tetapi jujur dan dekat dengan persoalan nyata. Tidak harus dengan bahasa besar atau konsep rumit. Cukup dengan membicarakan apa yang kita lihat dan kita alami, lalu mencoba menilainya dengan nilai yang selama ini kita yakini. Dari situlah, menurut saya, NDP bisa kembali terasa hidup.
Saya menulis ini dengan kesadaran penuh bahwa tulisan ini memiliki banyak keterbatasan. Apa yang saya sampaikan lahir dari kegelisahan dan pengalaman pribadi sebagai kader, bukan dari posisi yang paling benar. Pandangan ini tentu masih bisa dan perlu diuji, bahkan dikritik. Namun setidaknya, saya berharap tulisan ini menjadi pengingat bahwa berbicara tentang nilai tidak cukup hanya di forum-forum resmi, melainkan harus terus dihidupkan dalam proses belajar, sikap, dan pilihan sehari-hari.

