Fakta Plus, Jakarta – Gerakan Mahasiswa Peduli Indonesia (GMPI) mengadakan diskusi publik daring bertajuk “Bencana Sumatera: Ratusan Nyawa Melayang, Tanggung Jawab Bersama dan Jangan Saling Menyalahkan” pada Rabu (10/12). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus kritik konstruktif atas penanganan bencana yang menelan ratusan korban jiwa di Sumatera.
Diskusi menghadirkan dua pembicara muda yang aktif di bidang kebencanaan: Fadhillah M. Miftah dari Runding Indonesia dan Rizky Arief Dwi Prakoso, Founder Malaka Project. Keduanya menekankan bahwa bencana tidak boleh hanya dijawab dengan saling menyalahkan, tetapi dengan penguatan sistem mitigasi dan kolaborasi lintas aktor.
Fadhillah menilai koordinasi kebencanaan antar lembaga masih lemah, sehingga membuat respons bencana sering terlambat.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan pola reaktif. Early warning system harus merata, bukan hanya di kota besar. Pendidikan kebencanaan harus masuk kurikulum agar generasi muda paham risiko sejak dini,” ujarnya.
Senada, Rizky menekankan pentingnya kesiapsiagaan berbasis komunitas dan pemberdayaan anak muda.
“Anak muda harus terlibat sebagai relawan. Mereka punya jaringan cepat dan energi besar. Kalau komunitas siap, respon darurat bisa bergerak tanpa menunggu instruksi panjang,” jelasnya.
Diskusi yang dipandu Farhan Fauzan berjalan dinamis. Para peserta aktif melontarkan pertanyaan kritis terkait mitigasi, transparansi bantuan, hingga budaya siaga masyarakat.
Salah satu peserta, Rian, bertanya mengenai langkah realistis percepatan mitigasi agar korban jiwa tidak terus berulang di setiap bencana. Para narasumber menekankan pentingnya pemerataan sistem peringatan dini, membangun jejaring relawan muda, dan memperkuat komunitas lokal sebagai ujung tombak respons.
Peserta lainnya, Musdalifa, menyoroti isu akuntabilitas distribusi bantuan. Menanggapi itu, Fadhillah menegaskan perlunya sistem pelaporan digital dan audit terbuka.
“Transparansi itu wajib. Setiap bantuan harus tercatat dan bisa dipantau publik,” tegasnya.
Rizky menambahkan bahwa pelibatan komunitas lokal sebagai pengawas lapangan menjadi kunci agar bantuan benar-benar sesuai kebutuhan warga.
Pertanyaan penutup datang dari Anne, yang mempertanyakan strategi paling efektif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana. Fadhillah menekankan pentingnya latihan rutin dan kurikulum siaga bencana.
“Simulasi tidak boleh sekadar seremoni. Harus menjadi budaya, terutama di sekolah dan desa rawan,” katanya.
Rizky kemudian menutup sesi dengan ajakan membangun budaya siaga di tingkat komunitas.
“Kalau masyarakat punya SOP sederhana, mereka bisa bergerak cepat bahkan sebelum bantuan formal datang,” ujarnya.
Diskusi dihadiri puluhan peserta dari berbagai daerah dan menjadi wadah refleksi bagi mahasiswa, aktivis kemanusiaan, dan publik luas. GMPI berharap forum ini mendorong lahirnya kesadaran kolektif bahwa bencana adalah urusan bersama, bukan ajang saling menyalahkan.
Tragedi Sumatera mengingatkan bahwa keselamatan manusia adalah prioritas tertinggi. Penguatan mitigasi dan kerja bersama menjadi satu-satunya jalan untuk mencegah korban jiwa berulang.





