Example floating
Example floating
BeritaNasional

Demokrasi Tak Cukup di Kotak Suara, Kader HMI Didorong Bicara Kesejahteraan dan Kemanusiaan

×

Demokrasi Tak Cukup di Kotak Suara, Kader HMI Didorong Bicara Kesejahteraan dan Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
FAKTAPLUS.ID, dok|Istimewa

FAKTAPLUS.ID|Demokrasi kerap berhenti pada urusan pemilu, pergantian kekuasaan, dan kalkulasi politik. Padahal, ukuran lain yang tak kalah penting adalah apakah demokrasi mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Persoalan itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam rangkaian pematerian kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Rabu, 30 September 2026. Sesi siang tersebut membahas Ideologi, Politik, Organisasi, Strategi, dan Taktik (Idepolitorstratak) serta Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

Sesi pertama mengangkat tema “Posisi HMI dalam Kondisi Demokrasi Politik dan Ekonomi Indonesia” dengan pemateri Fajar Zulkarnain, mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI periode 2006–2008.

Fajar mengurai hubungan demokrasi, politik, dan kesejahteraan masyarakat. Menurut dia, demokrasi bukan tujuan akhir kehidupan bernegara, melainkan instrumen untuk mencapai tujuan yang lebih substantif.

“Tujuan bernegara adalah kesejahteraan,” kata Fajar dalam pemaparannya.

Pernyataan itu menggeser ukuran keberhasilan demokrasi dari sekadar prosedur politik menuju dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Pemilu dan institusi politik, dalam kerangka tersebut, bukan titik akhir. Keduanya harus berkontribusi terhadap terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Karena itu, dinamika politik dan ekonomi tidak semestinya menjadi urusan elite semata. Mahasiswa, termasuk kader HMI, dituntut memiliki kemampuan membaca perubahan politik, memahami persoalan ekonomi, serta melihat dampaknya terhadap masyarakat.

Mahasiswa Tak Cukup Pandai Berteori

Fajar juga menyoroti persoalan kapasitas mahasiswa. Menurut dia, bangku kuliah semestinya tidak hanya menjadi ruang untuk mengumpulkan pengetahuan akademik.

Mahasiswa perlu membangun pengalaman dan rekam jejak sejak dini. Salah satu caranya dengan membangun portofolio yang menunjukkan kemampuan, kompetensi, dan kontribusi.

Portofolio itu dapat dibentuk melalui prestasi akademik, pengalaman organisasi, kegiatan sosial, karya, hingga keterampilan profesional. Kapasitas tersebut menjadi modal ketika mahasiswa memasuki ruang pengabdian dan tanggung jawab yang lebih luas.

Pesan itu sekaligus menempatkan organisasi mahasiswa bukan hanya sebagai ruang berkumpul. Organisasi menjadi arena untuk menguji gagasan, membangun kepemimpinan, mengasah kemampuan bekerja bersama, sekaligus membuktikan kapasitas melalui tindakan.

Dari Demokrasi ke Kemanusiaan

Setelah pembahasan Idepolitorstratak, rangkaian pematerian berlanjut dengan materi NDP bertema “Esensi Ajaran Islam tentang Kemanusiaan” yang disampaikan Tubagus Damanhuri, Ketua Umum BPL PB HMI periode 2024–2026.

Tubagus mengajak peserta menempatkan ajaran Islam bukan hanya dalam hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dalam hubungan antarmanusia.

Iman, ilmu, dan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam pembahasan tersebut. Iman memberikan dasar nilai dalam menentukan arah kehidupan, sedangkan ilmu membantu manusia memahami kenyataan dan mengambil keputusan secara rasional serta bertanggung jawab.

Keduanya tidak diposisikan sebagai sesuatu yang terpisah. Iman tanpa pemahaman terhadap realitas dapat kehilangan konteks, sementara ilmu tanpa landasan nilai berisiko kehilangan arah dalam penggunaannya.

Karena itu, keberagamaan juga perlu terlihat dalam tindakan. Nilai Islam dan kemanusiaan tidak cukup menjadi bahan diskusi atau berhenti pada keyakinan personal. Nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap persoalan sosial dan tindakan yang memberi manfaat bagi orang lain.

Kaderisasi dan Tanggung Jawab Sosial

Dua materi tersebut mempertemukan dua kebutuhan dalam proses kaderisasi HMI: kapasitas dan nilai.

Di satu sisi, kader dituntut memahami politik, ekonomi, demokrasi, organisasi, strategi, dan berbagai persoalan kebangsaan. Di sisi lain, kemampuan tersebut harus dibangun di atas nilai iman, ilmu, integritas, dan kemanusiaan.

Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada penambahan pengetahuan. Ia menjadi proses membentuk manusia yang mampu membaca persoalan, menguji gagasan, mengambil sikap secara bertanggung jawab, dan menerjemahkan pengetahuan menjadi kerja sosial.

Demokrasi membutuhkan warga yang kritis. Organisasi membutuhkan kader yang memiliki kapasitas. Sementara kehidupan sosial membutuhkan manusia yang tidak kehilangan kepedulian terhadap sesamanya.

Pesan dari pematerian Rabu siang itu bermuara pada satu hal: ilmu harus melahirkan tindakan, demokrasi harus bermuara pada kesejahteraan, dan iman harus tercermin dalam kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *