Jakarta – Komite Mahasiswa dan Pemuda Reformasi (KMP Reformasi) menggelar diskusi publik dan buka puasa bersama membahas kesiapan energi nasional menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah serta dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia. Kegiatan tersebut berlangsung di Caffe Wifmnkey, kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (5/3/2026).
Dalam diskusi tersebut, KMP-Reformasi menyampaikan apresiasi kepada PT Pertamina (Persero) atas komitmennya menjaga ketersediaan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan LPG, menjelang momentum mudik Lebaran yang diperkirakan melibatkan jutaan masyarakat di seluruh Indonesia.
Ketua Umum KMP-Reformasi, Gunawan Al Bima, mengatakan kesiapan Pertamina menjadi faktor penting dalam menjamin kelancaran mobilitas masyarakat selama periode Ramadan dan Idul Fitri.
“Pertamina telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketersediaan energi nasional. Kami mengapresiasi berbagai langkah strategis yang dilakukan untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap optimal selama masa mudik dan arus balik Lebaran,” ujar Gunawan dalam diskusi tersebut.
Satgas RAFI Siaga 24 Jam
Seperti diketahui, Pertamina telah membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri (Satgas RAFI) yang bertugas memantau ketersediaan energi selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Melalui Satgas tersebut, Pertamina memastikan distribusi energi berjalan lancar dengan dukungan berbagai fasilitas layanan, mulai dari SPBU siaga hingga layanan tambahan bagi pemudik di jalur utama.
Berdasarkan data perusahaan, selama periode RAFI Pertamina menyiagakan ribuan fasilitas energi di berbagai wilayah, di antaranya lebih dari 2.000 SPBU siaga 24 jam, ribuan agen LPG siaga, layanan BBM modular, hingga kios energi di sejumlah jalur strategis pemudik.
Selain itu, terdapat pula layanan tambahan seperti motoris untuk kondisi darurat di jalur padat serta fasilitas Serambi MyPertamina di sejumlah rest area, bandara, dan lokasi wisata.
Dampak Geopolitik Timur Tengah
Diskusi tersebut juga menyoroti dinamika geopolitik global, khususnya eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas energi dunia.
Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 disebut memicu ketegangan baru di kawasan tersebut. Situasi semakin memanas setelah muncul wacana penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Gunawan menjelaskan, Indonesia sebagai negara yang masih mengimpor sebagian minyak mentah tentu berpotensi terdampak apabila jalur tersebut terganggu.
“Jika terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, maka harga minyak dunia bisa melonjak. Dampaknya akan dirasakan oleh negara-negara importir, termasuk Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, kenaikan harga minyak mentah global dapat meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dorong Kemandirian Energi Nasional
Dalam diskusi tersebut, KMPR juga menilai langkah mitigasi yang dilakukan Pertamina, seperti diversifikasi pasokan energi dan optimalisasi operasional kilang domestik, merupakan strategi penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Menurut Gunawan, dinamika geopolitik global harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian energi nasional dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah.
“Dinamika geopolitik global bukan hanya soal konflik antarnegara, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat strategi ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, penguatan koordinasi antar lembaga, mitigasi risiko, serta pengawasan terhadap sektor energi strategis perlu terus dilakukan agar pasokan energi nasional tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
“Langkah proaktif yang dilakukan Pertamina menunjukkan komitmen dalam menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu,” tutupnya.



