
Menurutnya, memahami sejarah secara utuh menjadi kunci untuk meredam potensi ketersinggungan di antara kader kedua organisasi, baik di tingkat pusat maupun cabang. Ia mengingatkan agar perbedaan tafsir sejarah tidak terus-menerus menjadi sumber dikotomi.
Jakarta – FAKTAPLUS.ID, Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam acara puncak Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menyebut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai “sekoci” HMI menuai pro dan kontra di kalangan aktivis mahasiswa dan alumni. Menanggapi hal tersebut, Pengurus Besar HMI melalui Wasekjen PB HMI, Bogin, angkat bicara.
Bogin menyampaikan bahwa pernyataan Menteri ESDM tersebut perlu ditempatkan sebagai ruang refleksi bersama, bukan sebagai sumber perpecahan.
“Saya rasa pernyataan Menteri ESDM kanda Bahlil Lahadalia perlu kita jadikan pelajaran dan renungan bersama karena ini menyangkut historiografi dua organisasi besar dalam dunia kemahasiswaan di republik ini,” ungkapnya, Selasa (03/03).
Ia menegaskan bahwa baik HMI maupun PMII lahir dalam konteks sejarah bangsa yang sedang menghadapi krisis multidimensi, mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial-kultural. Karena itu, menurutnya, penting melihat dinamika historis kedua organisasi secara jernih dan proporsional.
“HMI dan PMII pada dasarnya terlahir dari rahim yang sama, yakni rahim Indonesia serta Islam yang menjadi dasar filosofis perjuangannya. Keduanya terbentuk oleh satu kondisi: Indonesia sedang tidak baik-baik saja pada waktu itu,” terangnya.
Bogin juga menyinggung keterkaitan historis antara HMI dan PMII yang telah banyak dicatat dalam literatur organisasi. Ia menyebut nama Mahbub Djunaidi sebagai salah satu figur kunci dalam fase awal PMII.
“Kakanda Mahbub Djunaidi yang merupakan Ketua Umum pertama PMII, pada masa itu juga masih tercatat sebagai salah satu fungsionaris Pengurus Besar HMI. Artinya, ada konektivitas historis antara HMI dan PMII, dan itu tertulis dalam literatur sejarah kedua organisasi ini,” jelasnya.
Menurutnya, memahami sejarah secara utuh menjadi kunci untuk meredam potensi ketersinggungan di antara kader kedua organisasi, baik di tingkat pusat maupun cabang. Ia mengingatkan agar perbedaan tafsir sejarah tidak terus-menerus menjadi sumber dikotomi.
“Membaca sejarah kedua organisasi ini sangat penting untuk mengurai dikotomi yang selama ini berkembang. Hal ini juga penting agar ke depan HMI dan PMII tidak lagi disibukkan oleh dualitas pemahaman mengenai konektivitas berdirinya PMII dan keterlibatan HMI di dalamnya,” lanjut Bogin.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh kader untuk tidak terjebak dalam romantisme masa lalu yang berpotensi memecah belah solidaritas gerakan mahasiswa Islam. Baginya, tantangan bangsa hari ini jauh lebih kompleks dan membutuhkan kolaborasi lintas organisasi.
Bogin menilai Indonesia saat ini berada dalam situasi yang tidak sederhana, menghadapi berbagai problematika baik di dalam maupun luar negeri. Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya peran organisasi kemahasiswaan Islam sebagai kekuatan moral dan intelektual.
“Kita berharap agar semuanya, baik kami di HMI maupun teman-teman PMII, dapat fokus pada kondisi umat dan bangsa hari ini. Indonesia sedang berada pada jalur persimpangan dan ambiguitas dalam menghadapi berbagai problematika. HMI dan PMII adalah saudara yang terlahir dari rahim yang sama, yakni Islam dan Indonesia,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan persatuan.
“HMI dan PMII, walau berbeda warna, memiliki satu nafas perjuangan yakni Indonesia,” tutupnya.



