Example floating
Example floating
Nasional

Tak Semua Masalah Jadi Trending, Runding Ajak Mahasiswa Hadir untuk Mereka yang Tak Bersuara

×

Tak Semua Masalah Jadi Trending, Runding Ajak Mahasiswa Hadir untuk Mereka yang Tak Bersuara

Sebarkan artikel ini
Foto/Ist

Merawat Indonesia dari Pinggir, Runding Ajak Mahasiswa Menyuarakan Persoalan yang Tak Pernah Trending

 

Jakarta, 25 Juni 2026 – Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi isu-isu viral di media sosial, Ruang Upgrading Indonesia (Runding) mengajak mahasiswa untuk kembali menoleh ke pinggiran, mendengar suara-suara yang selama ini jarang mendapatkan perhatian publik.

Ajakan tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Merawat Indonesia dari Pinggir” yang menghadirkan Hakim Satria dan Muhamad Riyadh Fadild sebagai narasumber. Diskusi ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa dan generasi muda untuk memahami bahwa tidak semua persoalan bangsa memiliki ruang yang sama dalam percakapan publik.

Dalam sambutannya, Muhamad Riyadh Fadild menyampaikan bahwa panitia sebelumnya telah mengundang jurnalis dan dokumenteris Dandhy Dwi Laksono untuk hadir membersamai diskusi. Namun, karena sedang berada di Yogyakarta dan memiliki agenda yang tidak dapat ditinggalkan, Dandhy belum dapat bergabung dalam kegiatan tersebut.

Meski demikian, Dandhy menitipkan salam dan pesan kepada seluruh peserta agar tetap menjaga semangat dalam perjuangan sosial dan kerja-kerja kemanusiaan.

“Mas Dandhy menyampaikan salam untuk teman-teman semua. Beliau berpesan agar tetap semangat dalam setiap pergerakan dan perjuangan yang dilakukan untuk masyarakat,” ujar Riyadh.

Pesan singkat itu disambut hangat peserta dan menjadi pengingat bahwa perubahan sosial tidak lahir dari sorotan sesaat, melainkan dari konsistensi dan keberanian untuk terus bergerak meski jauh dari perhatian publik.

Dalam pemaparannya, Hakim Satria mengingatkan bahwa Indonesia menyimpan banyak persoalan mendasar yang kerap tenggelam di balik hiruk-pikuk ruang digital. Mulai dari kemiskinan, konflik sosial, pengangguran sarjana, krisis yang dihadapi petani dan nelayan, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), masih menjadi kenyataan yang dihadapi sebagian masyarakat Indonesia.

Menurutnya, perhatian publik saat ini semakin sering ditentukan oleh algoritma media sosial dibandingkan kebutuhan nyata masyarakat. Akibatnya, banyak persoalan penting yang tidak memperoleh ruang yang layak dalam percakapan publik.

“Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi pengikut arus isu yang sedang ramai. Mahasiswa harus mampu menemukan persoalan yang belum banyak dibicarakan dan menghadirkannya ke ruang publik,” kata Hakim.

Sementara itu, Muhamad Riyadh Fadild menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi agent of change, tetapi juga harus mampu menjadi agent of listening. Kemampuan mendengar, menurutnya, merupakan fondasi utama sebelum menawarkan solusi maupun melakukan advokasi sosial.

Riyadh menilai, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat harus diwujudkan melalui observasi lapangan, dialog langsung, pengumpulan data, serta upaya memahami persoalan dari sudut pandang mereka yang mengalaminya.

“Kepedulian sosial yang kuat lahir dari kemampuan mendengar. Sebelum berbicara tentang perubahan, mahasiswa harus terlebih dahulu memahami realitas yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.

Diskusi tersebut juga menyoroti berbagai kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggiran perhatian publik, seperti masyarakat adat, petani kecil, nelayan tradisional, penyandang disabilitas, buruh sektor informal, masyarakat perbatasan, hingga komunitas miskin perkotaan. Kelompok-kelompok tersebut dinilai masih menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang serius, namun belum memperoleh ruang yang memadai dalam percakapan nasional.

Para narasumber mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai instrumen yang tersedia, mulai dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), organisasi kemahasiswaan, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga media digital sebagai sarana menghadirkan gagasan dan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Dalam sesi diskusi, peserta turut membahas tantangan gerakan mahasiswa di era digital, termasuk pengaruh algoritma media sosial terhadap pembentukan opini publik dan efektivitas gerakan sosial dalam mendorong perubahan kebijakan. Para narasumber sepakat bahwa demonstrasi tetap menjadi bagian penting dari demokrasi, namun harus diperkuat dengan riset, advokasi berbasis data, kolaborasi lintas sektor, serta keterlibatan langsung bersama masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Runding berharap lahir semakin banyak mahasiswa yang tidak hanya peka terhadap isu-isu yang sedang menjadi perhatian publik, tetapi juga berani hadir untuk mendengar dan memperjuangkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan.

Sebab merawat Indonesia tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan atau isu yang sedang menjadi sorotan. Terkadang, ia dimulai dari keberanian untuk mendengar mereka yang berada di pinggiran, lalu menjadikan suara mereka bagian dari masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *