
FAKTAPLUS.ID|LHOKSEUMAWE — Setelah hampir dua bulan menghadapi keterbatasan air bersih, para pengungsi korban banjir di Desa Blang Naleung Mameh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, akhirnya menerima pasokan air bersih dari pemerintah, Rabu, 4 Februari 2026.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kota Lhokseumawe, Taruna Putra Satya, mengatakan krisis air bersih di lokasi pengungsian tersebut telah menjadi perhatian pemerintah daerah. Ia menyebut, distribusi air dilakukan setelah pemerintah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“Hari ini kami turun langsung ke Blang Naleung Mameh untuk menyalurkan bantuan dan melihat kondisi pengungsi. Memang benar terdapat kekurangan air bersih, meski untuk logistik masih relatif mencukupi,” kata Taruna kepada AJNN, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut Taruna, pasokan air bersih akan disalurkan langsung ke posko pengungsian guna memenuhi kebutuhan dasar para penyintas. Pemerintah daerah, kata dia, juga memastikan distribusi logistik tetap berjalan untuk menjamin keberlangsungan hidup pengungsi.
“Penyaluran sembako dilakukan langsung kepada pengungsi. Sementara untuk layanan kesehatan, tim medis rutin melakukan pemeriksaan setiap hari Senin dan Kamis,” ujarnya.
Data pemerintah menunjukkan, sebanyak 55 kepala keluarga masih mengungsi di Blang Naleung Mameh akibat banjir yang terjadi pada 26 November 2025. Hingga kini, para pengungsi belum menempati hunian sementara dan juga belum menerima Dana Tunggu Hunian (DTH).
Taruna menyebut pemerintah daerah masih berupaya mencari solusi atas kebutuhan hunian para penyintas. “Pemerintah tetap hadir dan berupaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak,” katanya.
Sebelumnya, sejumlah pengungsi mengeluhkan kesulitan memperoleh air bersih dan mulai mengalami gangguan kesehatan. Hamdani, salah seorang pengungsi, mengatakan kondisi di lokasi pengungsian kian berat seiring terbatasnya akses air dan menipisnya logistik.
“Kami sudah dua bulan mengungsi. Air bersih sudah tidak ada, logistik juga mulai menipis. Terakhir kami terpaksa patungan membeli air setengah tangki.
Menurut Hamdani, biaya pembelian air mencapai Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per setengah tangki. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari puluhan keluarga yang masih bertahan di lokasi pengungsian.
Ia mengatakan sebagian besar pengungsi kehilangan rumah akibat banjir. “Saat banjir, yang tersisa hanya baju di badan. Rumah dan barang-barang habis hanyut,” ujarnya.
Selain persoalan air bersih, pengungsi juga menghadapi masalah kesehatan akibat cuaca panas dan kondisi tenda yang tidak memadai. Sejumlah warga mengeluhkan demam dan sesak napas karena debu dan suhu udara yang tinggi.
“Siang hari kami lebih banyak di luar tenda karena di dalam sangat panas,” kata Hamdani.#sumberAJNN



