
AMBON —FAKTAPLUS.ID, Di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah Maluku, Gubernur Hendrik Lewerissa justru tampil membagikan 1.500 masker kepada masyarakat. Aksi ini mungkin membantu warga menghadapi kabut asap, tetapi tidak menjawab persoalan utama yang dihadapi masyarakat.
Karhutla bukan sekadar persoalan asap dan gangguan pernapasan. Kebakaran juga mengancam tanaman cengkeh, pala, dan berbagai komoditas perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Maluku. Jika kebun rakyat terbakar, petani bukan hanya kehilangan tanaman, tetapi juga pendapatan dan masa depan ekonomi keluarganya.
Gubernur bukan relawan yang baru belajar menunjukkan kepedulian. Ia adalah pemimpin daerah yang seharusnya hadir melalui kebijakan strategis dan langkah penanganan berskala besar.
Pembagian masker tidak salah, tetapi jelas tidak cukup. Pemerintah harus memprioritaskan pengendalian titik api, perlindungan masyarakat, pendataan kerusakan kebun, serta pemulihan ekonomi petani terdampak. Koordinasi lintas kabupaten dan penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran ilegal juga harus menjadi perhatian serius.
Maluku membutuhkan kebijakan konkret untuk menjawab persoalan lingkungan, ekonomi, dan sosial yang membebani masyarakat. Bukan sekadar kegiatan seremonial yang terlihat seolah-olah pemerintah telah bekerja.
Hendrik Lewerissa harus memahami bahwa jabatan gubernur bukan panggung pencitraan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan, menggerakkan sumber daya, dan menghadirkan solusi nyata ketika daerah menghadapi bencana.
Cara-cara mencari muka melalui kegiatan simbolis sudah basi untuk dijadikan jualan politik. Ketika hutan terbakar dan kebun rakyat terancam, Maluku membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar pembagian masker.










