Example floating
Example floating
AmbonBeritaPolitik

2 Tahun Kepemimpinan Hendrik Lewerissa- Abdullah Vanath: Rakyat Maluku cuman Tarima Program Tai Mulu Bobou

×

2 Tahun Kepemimpinan Hendrik Lewerissa- Abdullah Vanath: Rakyat Maluku cuman Tarima Program Tai Mulu Bobou

Sebarkan artikel ini
FAKTAPLUS.ID,|illustrasi

Memasuki dua tahun kepemimpinan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath, masyarakat berhak mempertanyakan sejauh mana janji-janji kampanye telah diwujudkan dalam bentuk program yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat.

Di tengah berbagai kegiatan seremonial dan program yang sering dipublikasikan kepada masyarakat, muncul kritik bahwa pemerintah daerah lebih banyak menampilkan program-program populis daripada menghadirkan terobosan pembangunan yang mampu menjawab persoalan mendasar Maluku, seperti kemiskinan, keterisolasian wilayah kepulauan, tingginya biaya logistik, pengangguran, dan lemahnya industrialisasi sektor perikanan serta pertanian.

Bagi sebagian masyarakat, program-program tersebut ibarat Tai mulu bobou” istilah lokal yang menggambarkan sesuatu yang terus-menerus dibicarakan namun minim manfaat nyata bagi kehidupan rakyat. Kritik ini bukan ditujukan pada keberadaan program semata, melainkan pada ketidakseimbangan antara pencitraan politik dan hasil pembangunan yang dapat dirasakan secara langsung.

Publik juga berhak mengevaluasi klaim kedekatan pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Kedekatan politik seharusnya diukur dari kemampuan menghadirkan investasi, proyek strategis nasional, tambahan anggaran, serta percepatan pembangunan infrastruktur di Maluku, bukan sekadar narasi komunikasi politik. Jika kedekatan tersebut benar adanya, maka masyarakat tentu berharap terdapat bukti konkret berupa program besar yang mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam sistem demokrasi, kritik bukanlah ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik merupakan instrumen kontrol publik agar penyelenggaraan pemerintahan tetap berada pada jalur kepentingan rakyat. Karena itu, pemerintah daerah perlu membuka ruang dialog yang lebih luas dan menunjukkan bahwa setiap kritik dijawab dengan data, capaian, dan kebijakan yang terukur.

Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk mulai memperlihatkan arah kepemimpinan. Masyarakat Maluku tidak membutuhkan banyak slogan atau narasi keberhasilan. Yang dibutuhkan adalah bukti nyata: lapangan kerja yang bertambah, harga kebutuhan pokok yang lebih terjangkau, konektivitas antar-pulau yang membaik, serta hadirnya proyek-proyek strategis yang mampu mengangkat posisi Maluku dalam peta pembangunan nasional.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa sering ia tampil di media, melainkan seberapa besar perubahan yang dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari. Jika perubahan itu belum terlihat, maka kritik dan evaluasi publik akan terus menjadi bagian yang sah dalam perjalanan demokrasi di Maluku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *