
FAKTAPLUS ID, Setiap empat tahun sekali, ketika pesta sepak bola dunia digelar, Maluku selalu menghadirkan fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Euforia Piala Dunia di daerah ini seolah melampaui batas kewajaran. Jalan-jalan dipenuhi konvoi kendaraan, pawai kemenangan berlangsung hingga larut malam, suara terompet dan sorak-sorai menggema di berbagai sudut kota, bahkan tak jarang berujung pada kecelakaan lalu lintas dan gangguan ketertiban umum.
Tidak ada yang salah dengan mencintai sepak bola. Tidak ada yang keliru dengan mendukung tim favorit. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika euforia tersebut berkembang menjadi perilaku sosial yang berlebihan dan menggeser perhatian masyarakat dari persoalan-persoalan yang jauh lebih mendasar. Yang lebih ironis, fenomena ini tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga para pemimpin daerah dan elite institusi negara.
Di berbagai kesempatan, kepala daerah, pejabat publik, bahkan tokoh-tokoh yang memegang jabatan strategis ikut larut dalam hiruk-pikuk Piala Dunia. Mereka memberikan komentar kepada media, menyampaikan prediksi pertandingan, menunjukkan dukungan kepada negara tertentu, hingga menjadikan perhelatan sepak bola dunia sebagai topik utama ruang publik. Padahal masyarakat tidak memilih mereka untuk menjadi analis sepak bola. Mereka diberi mandat untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan yang selama puluhan tahun membelenggu Maluku.
Lebih memprihatinkan lagi ketika sebagian pejabat institusi keamanan turut terlibat dalam euforia tersebut. Aparat keamanan semestinya tampil sebagai penjaga ketertiban dan stabilitas sosial, terutama ketika konvoi dan pawai berpotensi mengganggu ketenangan masyarakat serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Yang dibutuhkan publik adalah sikap profesional dan fokus pada tugas kelembagaan, bukan ikut menjadi bagian dari fanatisme yang berkembang di tengah masyarakat.
Fenomena ini sesungguhnya menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis kesadaran publik mengenai prioritas pembangunan. Maluku hingga hari ini masih menghadapi berbagai tantangan serius. Tingkat kemiskinan masih relatif tinggi, kesempatan kerja terbatas, investasi berjalan lambat, biaya logistik mahal, dan berbagai potensi ekonomi daerah belum mampu dikelola secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di sektor perikanan, Maluku yang dikenal sebagai lumbung ikan nasional belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari kekayaan lautnya. Di sektor pertanian dan perkebunan, komoditas unggulan seperti sagu masih belum ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi daerah. Sementara itu, pembangunan infrastruktur strategis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sering kali berjalan lambat dan tidak menjadi perhatian utama dalam diskursus publik.
Ironinya, persoalan-persoalan tersebut kerap kalah populer dibandingkan hasil pertandingan sepak bola yang berlangsung ribuan kilometer dari Maluku. Ruang publik lebih ramai membahas kemenangan atau kekalahan negara lain dibandingkan masa depan daerahnya sendiri. Akibatnya, energi sosial yang seharusnya digunakan untuk mengawal kebijakan publik dan mendorong perubahan justru habis dalam perayaan yang sifatnya sesaat.
Tentu saja sepak bola dapat menjadi sarana hiburan dan pemersatu masyarakat. Namun hiburan tidak boleh berubah menjadi budaya yang mengaburkan kemampuan masyarakat untuk melihat persoalan yang lebih penting. Ketika fanatisme terhadap sepak bola lebih besar daripada kepedulian terhadap kemiskinan, pendidikan, lapangan kerja, dan pembangunan ekonomi, maka yang terjadi bukan lagi sekadar kecintaan terhadap olahraga, melainkan kemunduran dalam cara pandang terhadap masa depan.
Maluku membutuhkan masyarakat yang kritis, pemimpin yang fokus pada pembangunan, dan institusi negara yang bekerja sesuai fungsi serta tanggung jawabnya. Piala Dunia akan selesai dalam hitungan minggu, juara baru akan lahir, dan perayaan akan berakhir. Namun kemiskinan, pengangguran, ketimpangan pembangunan, dan ketertinggalan ekonomi akan tetap tinggal jika tidak menjadi perhatian utama.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah negara mana yang akan menjadi juara Piala Dunia berikutnya. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah kapan Maluku mampu keluar dari kebiasaan merayakan kemenangan orang lain dan mulai serius memperjuangkan kemenangan bagi daerahnya sendiri




